Facebook Larang Pohon Jadi Tempat Iklan, Hingga Mengulik Soal Mantan



RADARKAMPUS.COM, Semarang - Facebook Larang Pohon Jadi Tempat Iklan, Hingga Mengulik Soal Mantan, Ada-ada saja cara orang mempromosikan usahanya. Pepohonan sebagai salah satu tempat yang dilarang sebagai media iklan, tidak luput dari ulah kreatif pengusaha di kota-kota di Indonesia.

Padahal semestinya pohon tersebut harus dijaga dari kerusakan. Bukan malah ditempeli iklan dan memakunya. Maka, tidak mengherankan jika banyak orang yang geram dan setengah menuduh: pengusaha itu tidak punya etika dan tidak mencintai alam. Sedangkan, pemerintah sudah bosan mengingatkan dan menertibkannya.

Tidak hanya rakyat dan pemerintah saja. Melihat fenomena ini nampaknya facebook juga mulai geram. Melalui pesan tersiratnya facebook mencoba menjawab keinginan rakyat diseluruh dunia termasuk rakyat kota Semarang yang mencintai lingkungan. Tidak hanya omong kosong belaka, facebook hadir memberikan solusi. Kali ini untuk melarang dan mengurangi orang-orang memasang iklan di pohon, facebook mengeluarkan kebijakan facebook ads.

Kebijakan facebook ads, jika diamati sebenarnya memiliki fungsi ganda. Pertama, selain memudahkan seorang pengusaha memasarkan produknya dengan target yang jelas melalui sosial media marketing. Kedua, facebook ads juga merupakan kebijakan yang murah dan ramah lingkungan.


Sebenarnya bukan sekali dua kali ini saja facebook memberikan gebrakan dalam penentuan kebijakan yang pro rakyat. Facebook memang sangat peka, tidak hanya kebijakannya yang melarang pengusaha memasang iklan di pohon. Saking perhatian pada rakyat didunia, facebook juga mengeluarkan kebijakan yang sentimentil lainnya, salah satunya kebijakan untuk mengurangi kegalauan masyarakat. Coba perhatikan, facebook juga sering sekali mengulik kenangan, mengingatkan ulang tahun seseorang, hingga riwayat awal pertemanannya dengan sang mantan.

Diusung PDI P, Ridwan Kamil Berpeluang Besar Jadi Jabar Satu



Sebagaimana dilansir dalam berbagai media Walikota Bandung, Ridwan Kamil, belum lama ini mengaku merasa siap jika mendapatkan pinangan untuk maju dalam Pemilihan Gubernur Kota (Pilgub) Jawa Barat 2018 dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI P). Wali Kota Bandung yang akrab disapa Kang Emil itu sangat mengapresiasi dan senang terhadap siapapun yang mendukungnya termasuk partai pimpinan Megawati Soekarno Putri tersebut. Pernyataan tersebut ia sampaikan setelah menghadiri Sekolah Kepala Daerah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di Depok, Jawa Barat, Selasa, 30 Agustus 2016 lalu.

Melihat pemberitaan tersebut memang menunjukan bahwa kehadiran dan pernyataan Kang Emil dalam acara internal PDIP itu, amat menyita perhatian publik. Mungkinkah Ridwan Kamil bakal menjadi salah satu kader partai berlambang banteng moncong putih itu dan maju sebagai Calon Gubernur Jawa Barat?

Jika menyimak rekam jejak PDIP sebagai partai penguasa di negeri ini memang memiliki kans yang sangat besar untuk mampu memenangkan setiap Pemilihan Umum di berbagai daerah termasuk Jawa Barat. Terlebih Partai yang satu ini sangat lihai memikat hati rakyat dengan program dan kader-kader mudanya yang memiliki kapabilitas dalam memimpin pemerintahan dan “digandrungi” banyak orang karena citra dan figurnya seperti halnya Joko Widodo, Ganjar Pranowo, dan Tri Risma. Maka besar peluangnya jika PDIP kembali merekrut kader potensial dan elektablitas yang tinggi untuk kembali memenangkan Pemilukada Jawa Barat.

Kesempatan ini menjadi bertambah, lantaran tahun 2013 lalu pasangan yang diusung banteng moncong putih, Rieke Diah Pitaloka dan Teten Masduki, harus mengakui ketangguhan Ahmad Heryawan dan Deddy Mizwar kader yang diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Jelas dengan kekalahan sebelumnya tersebut, PDIP berusaha untuk tetap bersaing dan menjaga peluangnya dengan membidik kader potensial untuk memimpin Jawa Barat.

Tidak mengherankan jika PDIP berusaha mendekati dan mengusung Kang Emil sebagai kadernya untuk maju sebagai calon Gubernur Jawa Barat 2018. Jelas saja karena Lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut memang dikenal sebagai salah satu pemimpin daerah yang memiliki kemampuan, prestasi, dan tingkat popularitas yang tinggi. Salah satu buktinya, pada tahun 2015 lalu ia tercatat sebagai wali kota di Jawa Barat yang paling populer di media massa berdasarkan pemantauan Indonesia Indicator (I2).

Tak sebatas itu, Pria asli Bandung yang sukses memboyong Adipura ke Bandung hingga dua kali ini, juga dikenal memiliki strategi marketing politik yang mumpuni. Hal ini dibuktikan dengan menjadikan berbagai sosial media, seperti instagram, facebook, dan twiter, sebagai alat komunikasi dalam kampanyenya pada saat pemilihan umum walikota Bandung tahun 2013 yang lalu. Berbagai platform sosial media tersebut sukses sebagai media pemasaran iklan politik dan sarana berkomunikasi secara efektif kepada segmen anak muda yang memiliki peran yang cukup besar untuk menjadi influencers di masyarakat. Alhasil, berkat strategi tersebut ia kemudian memenangkannya dalam pemilu walikota Bandung 2013 dengan berhasil melesat di urutan pertama dengan perolehan suara 45,24%.

Tidak hanya berhenti saat kampanye saja, dalam kepemimpinannya Kang Emil juga dikenal sangat akrab bercengkrama dengan warganya, baik bertemu langsung, ataupun via sosial media. Ia juga memanfaatkan itu semua untuk mensosialiasikan dan serap aspirasi setiap kebijakannya dalam memimpin kota Bandung.

Sebagai sosok pemimpin daerah yang memiliki paket komplit, penulis kira tidak mengherankan jika banyak partai akan mendekati Kang Emil untuk menjadi calon Gubernur Jawa Barat 2018 mendatang, termasuk PDIP.

Meskipun sampai saat ini ia masih belum bisa memutuskan apakah akan menjadi kader PDIP atau tidak untuk melanjutkan karier politiknya ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, nantinya, jika benar-benar PDIP sebagai partai dengan perolehan suara terbanyak dalam Pemilu 2014 ini berhasil meminang Ridwan Kamil menjadi salah satu kadernya untuk maju sebagai Calon Gubernur Jawa Barat. Tentu saja akan menjadi kekuatan besar dalam pemenangan di Pilgub Jabar mendatang. Terlebih citra dan figur Ridwan Kamil memang dinilai sangat cocok untuk memimpin dan membangun Jawa Barat.


Namun, langkah PDIP untuk meminang Walikota Bandung tersebut kemungkinan besar juga akan menghadapi tantangan yang besar. Lantaran, beberapa partai juga kemungkinan akan mengusungnya sebut saja Partai Gerindra pimpinan Prabowo Subianto dan Partai Keadilan Sejahtera yang mengusung Kang Emil dalam pemilihan Walikota Bandung sebelumnya. 

Penulis Annas Tasyia Sakila, mahasiswa Ilmu Hukum Universitas Negeri Semarang, dimuat dalam laman Opini.id

Haji Ilegal, Nodai ‘Sakralnya’ Ibadah Haji

RADARKAMPUS.COM, Semarang - Haji Ilegal, Nodai ‘Sakralnya’ Ibadah Haji, Sebagai salah satu ibadah puncak dari rukun Islam, haji wajib dilakukan oleh setiap muslim yang mampu menjalankannya. Haji memang menjadi salah satu ibadah yang ‘spesial’ dan berbeda dari sebelumnya, hal ini lantaran haji dilakukan pada waktu dan tempat yang telah ditentukan dan disyariatkan. Sehingga, tidak dapat dipungkiri jika haji menjadi salah satu ibadah yang istimewa dan didambakan oleh setiap muslim diseluruh penjuru dunia tak terkecuali di Indonesia.

Namun, dalam pelaksanaannya ibadah haji di Indonesia masih banyak hal yang perlu diperhatikan. Hal ini dikarenakan, tidak sedikit oknum yang melupakan kesakralan dari nilai religiositasnya. Memang, untuk melaksanakan ibadah haji yang merupakan akumulasi dari empat rukun Islam sebelumnya ini, tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Perlu adanya manajemen yang baik, sistem yang mendukung, dan pengelola yang mumpuni dalam bidangnya. Selain itu, perlunya nilai-nilai integritas dari penyelenggara maupun pelaksana dari ibadah yang satu ini.

Jika saat ini kritikan pedas hanya diarahkan kepada Kemenag, terutama pada praktisi ibadah haji. Sehingga muncul tendensi bahwa penyelenggaraan haji di Indonesia masih sangat statis, dan seolah-olah kerjanya hanya melanjutkan atau memindahkan proses pengelolaan sebelumnya. Maka, hal ini menjadi tidaklah adil.



Marilah kita tengok pemberitaan yang sedang hangat di Indonesia saat ini tentang “Ratusan jemaah haji ilegal Indonesia yang ditangkap Filiphina”. Bagi penulis ini sangatlah menggelitik dimana hampir 177 orang diyakini adalah WNI yang hendak menunaikan ibadah haji menggunakan quota Filipina. Mereka diduga kuat menggunakan dokumen palsu yang diatur oleh sindikat di Filipina.

Permasalahan ini memang tidak jauh-jauh dari antrean panjang haji di Indonesia yang lamanya hingga puluhan tahun dan mahalnya biaya haji resmi di Indonesia. Namun, tidak elok juga jika menghalalkan segala cara untuk mengenapkan rukun Islam yang begitu ‘sakral’ ini. Berhaji melalui negara lain dan menggunakan paspor asal negara lain merupakan hal yang jelas-jelas melawan hukum.

Namun tidak sampai disitu saja, saking kreatifnya banyak juga oknum nakal yang ingin melegalkan ibadah haji mereka dengan modus lain diantaranya adalah menjadi pekerja musiman, hingga pergi ke Tanah Suci dengan niat umrah beberapa pekan sebelum musim haji tiba. Setelah selesai umrah, mereka tidak pulang ke Indonesia namun tinggal sementara disana dan menyusup kemudian mengikuti ibadah haji saat proses haji dimulai. Miris!.

Padahal dengan jelas disyariatkan bahwa haji adalah ibadah yang wajib dilakukan bagi mereka yang telah mampu. Baik mampu secara fisik, psikis, maupun material. Sehingga, tidak bisa seseorang melakukan ibadah haji hanya dengan tuntutan nafsu semata. Ketika ini terjadi maka ‘ah sudahlah’ tentu saja adigium ‘kejahatan bukan hanya karena niat pelakunya namun juga karena ada kesempatan’ akan menimbulkan peluang bagi orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang justru akan merusak kesakralan dalam proses penyempurnaan rukun islam ini.

Ketika semua ini terjadi, yang kemudian harus dipertanyakan ialah mengapa masih banyak yang menggunakan cara ilegal, yang melawan hukum dalam melakukan ibadah haji? Dan siapakah yang harus bertanggung jawab?. Ya, jawabannya sederhana, apapun alasannya, penulis kira ketika orang mengambil jalan pintas dengan cara ilegal itu hanya akan mengotori niat suci mereka berkunjung ke Baitullah. Sedangkan, yang harus bertanggung jawab dalam hal ini tidak hanyalah pemerintah, namun juga mereka-mereka yang telah terbukti melawan hukum dalam melegalkan ibadah hajinya.

Nah, untuk mengatasi permasalahan ini hemat penulis, setidaknya ada beberapa solusi yang bisa diambil dan dioptimalkan. Pertama ialah penyelenggara ibadah haji dalam hal ini pemerintah, harus kembali memanajemen proses penyelenggaraan haji dengan rapi dan tersistematis. Hal ini bisa dilakukan dengan melakukan moratorium dengan menghentikan sementara pendaftaran haji, kemudian melakukan perbaikan sistem penyelenggaraan haji secara komprehensif. Jangan sampai ada seseorang yang melakukan ibadah haji berulang kali sedangkan masih banyak orang yang mengantri untuk menyempurnakan rukun islamnya.

Kedua, langkah untuk meminta tambahan kuota haji pada Kerajaan Arab Saudi memang harus terus dilakukan oleh Indonesia. Jalan diplomasi ini merupakan langkah kongkrit untuk mengatasi menjalarnya antrean haji di Indonesia. Tambahan kuota ini memang sangat pantas diperoleh Indonesia yang menjadi salah satu negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia.


Ketiga, perlu adanya komitmen bersama antara pihak penyelenggara dan pelaksana dari ibadah haji di Indonesia. Pemerintah dalam hal ini sebagai penyelenggara dapat melakukannya dengan sosialisasi secara menyeluruh pada masyarakat Indonesia. Sedangkan, dari  pihak pelaksana dalam hal ini calon jamaah haji harusnya mampu menjaga hawa nafsu mereka untuk menunaikan ibadah haji. Jangan sampai cara-cara ilegal menodai ‘sakralnya’ niat suci ibadah di Baitullah. Sekian!.


Penulis Erman Istanto, S.Pd., tulisan ini dimuat dalam laman opini.id pada 30 Agustus 2016

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Vokasi di Indonesia

RADARKAMPUS.COM, Semarang – Urgensi Revitalisasi Pendidikan Vokasi di Indonesia, Untuk mengukur kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dalam negeri agar mampu bersaing dengan tenaga kerja asing dalam era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), salah satunya dapat dilihat melalui pendidikannya. Sertifikasi tenaga kerja menjadi salah satu produk yang harus diberlakukan oleh setiap Perguruan Tinggi di Indonesia.

Sumber gambar diakses via www.intipesan.com

Sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh Kepala Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) Sumarna F Abdurrahman yang mengungkapkan bahwa saat ini sekolah kejuruan seperti vokasi dan SMK justru lebih terampil dan siap menyambut era global. Bahkan Presiden Joko Widodo sudah menerbitkan instruksi presiden (Inpres) tentang revitalisasi vokasi, SMK dan akademik komunitas. Oleh sebab itu, revitalisasi pendidikan vokasi di Indonesia menjadi sangat urgen.

Inpres yang dikeluarkan tersebut dibagi menjadi dua yakni SMK dan Politeknik. Dua kebijakan ini kemudian diimplementasikan dengan langkah-langkah kongkrit dari pemerintah. Misal saja yang dilakukan oleh Kemristekdikti atau Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang membuat sertifikasi tenaga kerja konstruksi menggandeng Politeknik sekaligus memberikan kepercayaan pada dunia pendidikan.

Sertifikasi ini diperlukan bagi tenaga kerja untuk memastikan kualitas dan kredibelitas agar mampu bersaing di kancah dunia diantaranya Asean. Dalam revitalisasi pendidikan vokasi ini ada tiga pilar yang harus berkontribusi diantaranya adalah BNSP, pemerintah, dan dunia pendidikan.


Sebagaimana negara Eropa yang memberikan banyak sekali ruang dan kesempatan pada pendidikan vokasinya. Hal ini setidaknya sedikit banyak diimplementasikan dimana format inpres harus terintegrasi sumbernya standar kompetensi. Karena selama ini banyak yang diajarkan tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan. Jerman dan Australia misalnya konsentrasi di vokasi.

Buat Penasaran, Inilah Kekurangan dan Kelebihan Konsep Full Day School

Buat Penasaran, Inilah Kekurangan dan Kelebihan Konsep Full Day School


RADARKAMPUS.COM, Semarang – Buat Penasaran, Inilah Kekurangan dan Kelebihan Konsep Full Day School,  Wacana akan diberlakukannya Full Day School merupakan topik yang amat hangat dibicarakan belakangan ini. Gagasan yang disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) ini mewacanakan akan menerapkan model pembelajaran “full day school” yang nantinya siswa akan berada di sekolah sejak pukul 07.00 s.d 17.00 untuk seluruh jenjang SD dan SMP.

Salah satu alasan yang diungkapkan oleh Mendikbud, Prof Muhadjir Effendy diantaranya dengan diadakannya konsep full day school akan menghindarkan siswa-siswi dari kegiatan-kegiatan negatif yang berada di luar lingkungan sekolah. Terlebih, selama seharian anak akan melakukan akademis dan non akademis dengan mengikuti kegiatan ekstrakulikuler.

Sebenarnya, konsep yang satu ini bukanlah hal yang baru, lantaran sudah banyak sekolah swasta yang menerapkannya. Model ini juga tidak terlepas dari berbagai kekurangan dan kelebihan. Beberapa kelebihan yang dapat ditawarkan diantaranya adalah siswa akan mendapatkan metode pembelajaran yang bervariasi dibandingkan dengan sekolah reguler pada umumnya.

Tentu tidak hanya itu saja, perkembangan minat, bakat, dan kecerdasan siswa akan terantisipasi dengan baik melalui pantauan dari tim bimbingan konseling. Selanjutnya, konsep full day school ini juga akan meningkatkan gengsi orang tua yang berorientasi pada hal-hal yang bersifat prestisius.

Meskipun demikian, konsep ini juga menimbulkan berbagai kritik dari masyarakat. Beberapa kritik dari masyarakat diantaranya adalah pembelajaran yang dimulai dari pagi hingga petang hari ini harus diimbangi dengan kesiapan fisik dan psikologis anak. Hal ini menimbulkan masalah ketika persiapan ini kurang ajan membuat siswa bosan dan frustasi. Kedua, siswa akan kehilangan banyak waktu untuk belajar tentang kehidupan bersama keluarganya di dalam rumah.


Selanjutnya, full day school juga akan menjadikan anak-anak banyak kehilangan waktu untuk belajar tentang hidup bersama keluarganya di rumah. Bahkan untuk menerapkan konsep ini di sekolah swasta bahkan membutuhkan biaya yang umumnya lebih mahal daripada sekolah pada umumnya.

Bangkitkan kembali Kejayaan Maritim Indonesia melalui Gerakan Pemuda Pemudinya

Bangkitkan kembali Kejayaan Maritim Indonesia melalui Gerakan Pemuda Pemudinya


RADARKAMPUS.COM, Semarang - Bangkitkan kembali Kejayaan Maritim Indonesia melalui Gerakan Pemuda Pemudinya, Mendiskusikan mengenai budaya maritim Indonesia berarti sama saja dengan membahas mengenai budaya Indonesia itu sendiri. Hal ini karena ada beberapa faktor yang memprakarsai budaya maritim bagian dari budaya Indonesia, Faktor tersebut diantaranya :
  • Indonesia termasuk negara maritim dengan kondisi geografis sekitar 17ribu pulau dengan
  • 70 %nya adalah wilayah maritim.
  • Pada masa Kerajaan Hindu buddha, tepatnya pada masa kerajaan Majapahit, kemaritiman itu mengalami masa kejayaan hingga daerah kekuasaanya mencapai daerah Filipina.
  • Sejarah menceritakan bahwa nenek moyang Indonesia adalah seorang pelaut yang melakukan migrasi dari daerah Asia dengan menggunakan perahu bercadik
  • Setiap kebudayaan ditentukan oleh ruangnya, di Indonesia sebagian besar wilayahnya adalah maritim jadi budaya bahari termasuk dalam lingkup budaya Indonesia
  • Indonesia memiliki aset Sumber Daya biota maritim yang melimpah dari mulai perairan tawar, payau hingga laut.
Beberapa faktor tersebut menjelaskan intinya adalah negeri kita negeri yang kaya secara kemaritiman dengan Sumber daya biota laut yang melimpah. Keadaan terlalu kaya sehingga sering muncul maling maling yang berusaha mencuri aset kemaritiman Indonesia seperti penangkapan ikan secara ilegal dilakukan pihak asing, penangkapan biota laut dengan media yang tidak ramah lingkungan seperti pukat harimau berdampak pada kerusakan biota laut, tidak hanya itu tapi juga ada kejahatan lainnya yang dilakukan seperti kegiatan Illegal, Unreported, and Unregulated Fishing (IUUF) dimana kegiatan ini berpotensi untuk melakukan tindakan kriminal seperti perdagangan manusia, korupsi, sampai penipuan pajak. Jika semua hal itu kita diamkan maka selamanya kejahatan akan menang dan Indonesia selalu mengalami kerugian baik dalam hal finansial maupun kerusakan kemaritimannya. Apakah kita rela membiarkan aset bangsa tercuri oleh pihak yang tidak pantas tuk mendapatkannya, apakah kita tega membiarkan Indonesia semakin tereksploitasi dan kejahatan semakin membabi buta sementara ibu pertiwi terus berduka.

Sudah sepantasnya generasi pemuda pemudi untuk lebih peka dengan masalah sosial yang terjadi di pertiwi ini,kerena pemuda diilhami sebagai penggerak perkembangan dan kemajuan suatu bangsa. Kualitas suatu bangsa dapat dilihat dari kualitas para pemuda-pemudinya.
Saya percaya tetap akan ada generasi pemuda yang ingin ikut berkontribusi dalam masalah bangsa dan menjaga pertiwi agar tetap lestari, namun tidak sedikit yang masih bingung dengan bagaimana caranya dan belum menemukan wadah untuk mengontribusikan daya guna.

Masalah yang menimpa kemaritiman Indonesia adalah tanggung jawab kita bersama bahkan para tunas bangsa generasi muda wajib dalam menawarkan solusi dalam permasalahan tersebut. Ada beberapa langkah untuk berpartisipasi dalam melestarikan Kekayaan Maritim Indonesia dengan cara sebagai berikut :
  • Menghilangkan rasa acuh saat mengetahui Kemaritiman Indonesia tereksploitasi
  • Peka terhadap isu isu sosial yang menyangkut berita dan Informasi mengenai Kemaritiman Indonesia
  • Mendalami pengetahuan dan wawasan tentang Budaya Maritim Indonesia
  • Mengekspos berita-berita diberbagai Media Sosial hal hal yang menyangkut Kemaritiman IndonesiaMenjaga dan melestarikan warisan aset bangsa yang terdapat di wilayah peraliran dan tidak berusaha merusak biota laut untuk kepentingan diri maupun golongan
  • Tanamkan pada diri rasa cinta tanah air dan sikap patriotisme
  • Menyebarkan propaganda rasa cinta terhadap maritim Indonesia kepada publik
Ingatlah satu hal Kekayaan Maritim Indonesia tidak bisa melindungi dirinya sendiri dari kejahatan kejahatan yang menyakitikan, sudah sepantasnya para pemuda Bergerak ikut memerangi penindasan. Mari rebut kembali kejayaan Maritim Nusantara di masa lalu, dan ingatkah pesan bung Karno bahwa “Usahakanlah agar kita menjadi bangsa pelaut kembali. Bangsa pelaut yang mempunyai armada niaga, bangsa pelaut yang mempunyai armada militer, bangsa pelaut yang kesibukan di laut menandingi irama gelombang lautan itu sendiri.” Ir. Soekarno


Tentang Penulis :
Dita Desiana Saputri gadis Purbalingga yang sedang mengais ilmu di Semarang, selebihnya pengagum keindahan Alam Nusantara

Peran Pendidikan Kewarganegaraan dalam Menyikapi Kebijakan BLSM

Peran Pendidikan Kewarganegaraan dalam Menyikapi Kebijakan BLSM


RADARKAMPUS.COM, Semarang - Peran Pendidikan Kewarganegaraan dalam Menyikapi Kebijakan BLSM, Kebijakan BLSM (Bantuan Langsung Sementara Mandiri) merupakan kebijakan antisipatif yang dikeluarkan pemerintah dalam rangka untuk mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan dari naiknya harga BBM (Bahan Bakar Minyak)  dari Rp. 4.500,- menjadi Rp.6.500,-. Dimana dampak yang paling mencolok yaitu terjadi dalam berbagai sektor ekonomi yaitu inflasi yang ditimbulkannya. Oleh sebab itu, dikeluarkan kebijakan BLSM dimana sebagai upaya untuk mengantisipasi kemampuan masyarakat bawah, dimana setiap KK (Kepala Keluarga) yang kurang mampu mendapatkan bantuan senilai Rp. 150.000,- dalam jangka pendek.

Namun kebijakan ini bukan tanpa celah, menurut pembahasan kelompok kami kebijakan ini bagaikan dua sisi mata logam, yang memiliki dua kubu yaitu pihak yang pro maupun kontra. Dimana dalam ranah pembagiannya kami menarik dua pendapat, bawasannya BLSM/Balsem ini memiliki dampak negatif dan positif yang ditimbulkan. Dari sisi negatif yang ditimbulkannya, yang pertama ialah adanya kecemburuan sosial tatkala terjadi pendistribusian BLSM yang tidak tepat sasaran, adanya penyelewengan dalam pendistribusian dilapangan, kemudian lebih lanjut, bawasanya kompensasi sebesar Rp. 150.000,- tidak sebanding dengan meningkatnya harga yang terjadi dalam sektor ekonomi dan hanya untuk jangka pendek, lebih parah lagi adanya muatan politis kepentingan yang memboncenginya, kemudian cara dan proses pendistribusian yang dipandang kurang tepat. Tapi kami juga menyoroti bagaimana masyarakat sebagai dan selaku penerima kompensasi juga tidak memiliki pemahaman mengenai “budaya antri” hal ini akan memperparah keadaan yaitu terjadi kericuhan dalam pendistribusiannya dilapangan, dan bahkan memungkinkan terjadinya gesekan maupun konflik. Disisi yang berlawanan kebijakan ini merupakan upaya solutif dan antisipatif guna menanggulangi dampak dari kenaikan harga BBM sebagaimana dicantumkan diawal, lebih dalam kebijakan ini merupakan suatu upaya guna menekan dana subsidi yang kurang tepat sasaran yang terjadi dalam masyarakat. Dalam pembahasan lebih lanjut kelompok kami juga menawarkan berbagai solusi diantaranya secara umum dengan memperbaiki sistem dalam penditribusiannya.


Sehingga dalam hal ini kami menyimpulkan bahwa dalam mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan ini dalam menyikapi dan menanggapi “Kebijakan BLSM (Bantuan Langsung Sementara Mandiri)” merupakan kebijakan yang bersifat pro dan kontra. Jadi, dengan adanya Pendidikan Kewarganegaraan dapat memberikan pengetahuan, perasaan, dan tindakan nyata guna menekan dampak negatif dari kebijakan yang bisa dianggap kontoversial tersebut. Lebih sempit lagi Pendidikan kewarganegaraan dapat membekali individu untuk lebih peka dan lebih tanggap terhadap sisi gelap yang ditimbulkan dari “Kebijakan BLSM” diantaranya pemahaman tentang budaya antri, pemahaman tentang konsep keadilan sosial. Kemudian lebih dari itu Pendidikan Kewarganegaraan juga menuntun kita untuk melakukan tindakan nyata guna menjadi warga negara yang baik.

Membangun Komunitas Orangtua



RADARKAMPUS.COM, Semarang - Membangun Komunitas Orangtua, Pagi hari ialah waktu dimana imajinasi mencari jawabannya dari sekian pertanyaan di sepanjang malam. Setelah semalaman melakukan refleksi yang cukup, itu biasa dilakukan oleh orang-orang kebanyakan golongan darah A. Mungkin aku juga termasuk didalamnya. Pagi hingga larut malam coba lakukan perjalanan, di sudut-sudut jalan pasti sedikit banyak menemukan kumpulan anak muda rentang usia 14 s.d 19 tahun membentuk suatu komunitas atau geng, tidak menutup kemungkinan lebih beragam usianya. Di latarbelakangi atas kesamaan lingkungan tempat tinggal, namun biasanya hal ini lebih karena mempunyai kesamaan pada satu kesukaan. Berkumpulnya anak-anak di usia ini sebenarnya adalah mereka tidak berhasil dalam menemukan passion mereka, ada sisi keterbatasan yang dirasa mengganggu luapan ekspresi (kesukaan) yang ingin sekali di pertunjukkan. Sekolah yang penuh aturan kadang membuat mereka dengan usia yang ada itu merasa jenuh, belum lagi tenaga pengajar yang tidak bisa menjawab ekspetasi mereka dan disebutnya dengan istilah kaku. Suasana mengajar yang monoton dan terkesan oleh mereka soal beberapa tenaga pengajar profesional dalam pengajaran hanya seperti menggugurkan kewajiban, melibatkan mereka dalam suasana belajar yang sesungguhnya menjadi pertanyaan tersendiri.

Sekolah dengan berbagai sistem yang diperuntukkan bagi mereka yang berusia rentang usia tersebut tadi ternyata belum bisa membentuk anak-anak yang berkarakter ketika mereka di luar sekolah. Ini artinya belum membekasnya apa yang telah diajarkan di kelas, hal yang diajarkan tidak masuk dalam jiwa-jiwa anak-anak tadi. Mungkin ramai tanggapan, tapi hampa akan sebuah makna mengapa mereka harus belajar menyoal yang diajarkan. Memahamkan pada tujuan itu sangat wajib untuk mendorong kesadaran awal, membangun kesadaran dimulai sejak dini dan memupuknya dengan konsistensi pesan kebaikan yang disisipkan dalam setiap pengajaran. Indahnya ketika pesan kebaikan dalam kelas bisa hidup dalam setiap langkah anak-anak sekolah.

Kenakalan remaja memang tidak bisa dilimpahkan seluruhnya pada pihak sekolah. Adanya penilaian bahwa suatu sekolah telah gagal dalam mendidik adalah kesimpulan yang terlalu cepat hanya karena kasus yang sedang mencuat beberapa hari ini. Terbentuknya sekumpulan anak-anak yang sulit diatur dan diberi tahu tentu di picu oleh berbagai faktor. (ilmu perilaku). Peran orangtua dan peran sekolah harus benar-benar berkolaborasi dalam setiap perkembangannya. Sinergitas peran antara orangtua murid dengan pihak sekolah seringkali berseberangan. Salah satunya adalah tentang konsep ideal yang dimiliki masing-masing pihak. Pertemuan antara orangtua murid dan pihak sekolah terkesan hanya formalitas yang penting ada, perhatikan di beberapa sekolah pertemuan ini biasa dilakukan ketika si anak akan menjelang bagi raport atau ada suatu acara yang mengharuskan sumbangan dana dan tenaga sebagai panitia misalnya. Pada akhirnya soal menggugurkan kewajiban ini menjadi sinkron antara si orangtua murid dengan pihak sekolah yang diwakili tenaga pengajar bahwa mereka menjalani ini sekedar cukup pada kata selesai, bukan bagaiamana di setiap prosesnya mempunyai makna yang lebih penting dan mendalam tentang rules membangun sebuah generasi secara serius. Tidak heran ketika ada pemberitaan media seorang anak sekolah melakukan tindakan penyimpangan, yang terjadi ialah saling lempar tanggungjawab antara pihak sekolah dengan orangtua siswa. Saling menyalahkan soal peran siapa yang belum maksimal dalam mendidik anak sehingga terjadi hal negatif yang demikian tadi. Komunikasi yang tidak sehat ini berbahaya jika diteruskan. Ini akan hanya menjadi ajang pembenaran tanpa saling mengkoreksi satu sama lain dan duduk bersama untuk memecahkan masalah. Permasalahannya adalah terkadang beberapa orangtua murid yang terlalu sibuk dengan aktivitas di luarnya, belum memandang sebuah pertemuan orangtua siswa ini sebagai hal yang urgen.

Memaksimalkan Komunikasi
Setelah banyaknya pemberitaan yang menghebohkan belakangan ini, seharusnya mampu mendorong pihak orangtua murid dan pihak sekolah memaksimalkan komunikasinya dalam meninjau perkembangan anak-anak dan berbagi peran yang sama-sama dipahami tentang how to be something great hingga sejauh mana yang perlu dilakukan ketika muncul kembali masalah baru di kemudian hari. Pemberitaan belakangan ini menyangkut kenakalan remaja dan akibat pergaulan yang mulai semakin tidak sehat tidak bisa di cegah dengan cara-cara lama, seperti dinasehati atau ceramah maupun disidang dengan gaya tegasnya. Anak-anak hari ini memang cukup berbeda, dimana sensitivitasnya tinggi. Tingkat kebosanan pun tinggi sehingga itulah mengapa mereka mencari cara untuk meluapkan ekspresinya atas kebebasan yang diinginkan, dan banyak menyebut anak itu berlaku nakal. Tidak hanya di sekolah terkadang suasana rumah pun dianggap sebagai penjara bagi beberapa kalangan anak karena melihat sisi kebosanan yang tinggi dan penuh aturan gak boleh begini dan begitu tanpa disertai alasan dan bahasa yang bisa diterima sesuai usianya. Perilaku adaptif orangtua dalam melihat perilaku anak-anak pada umumnya masih kurang mampu dalam membaca ketepatan atau kesesuaian, mereka lebih banyak mempertahankan ego dan sisi ideal dari alam pikirannya ataupun pengalamannya. Kesadaran untuk mempelajari dunia apa yang sedang di pahami oleh anak-anak mereka itu belum dilakukan, modal percaya memang masih menjadi pilihan utama. Ini bukan soal tidak percaya kepada anak di jaman yang sedemikian bebasnya, melainkan fungsi menciptakan generasi perlu di amati dan diperhatikan agar mengerti dimana sisi yang kurang dan dimana sisi yang berlebihan sehingga bisa di cegah apa saja yang bisa memicu pada kecenderungan yang negatif.

Kesadaran orangtua memang masih rendah, ini disebabkan zaman berubah begitu cepat dan tidak di imbangi oleh menyesuaikan diri pada perubahan yang terjadi. Maka seringkali praktik bohong dan membohongi kita dengar dari sebuah berita yang muncul bahwa si orangtua tidak percaya bahwa si anak telah melakukan penyimpangan atau tidakan yang negatif. Orangtua tidak mampu mengimbangi kemajuan zaman yang terus mengeluarkan cara berkehidupan yang lebih modern dan penuh jalan pintas. Parahnya para orangtua tetap mempertahankan idealisnya tanpa melihat bagaimana tantangan zaman, dan mungkin ini yang sering disebut oleh mereka kolot. Membawa gambaran zaman di masa lalu secara bulat yang kemudian dipaksakan untuk si anak tanpa dikemas terlebih dahulu tentu akan muncul penolakan, jika diterima pun itu hanya keluar kuping kanan-keluar kuping kiri oleh mereka. Kondisi orangtua dengan istilah bahasa gaul mereka seperti gaptek, kuper,katro, cupu, kolot dan sebagainya perlu diubah. Orangtua wajib memulai perubahan yang nyata terhadap zaman dengan memastikan kolaborasi dengan pihak sekolah berjalan dengan sungguh-sungguh dalam cita-cita yang sama menciptakan generasi yang terbaik.

Di sekolah anak-anak masih merasa kebingungan dalam menemukan passionnya. Atas ketidaktahuan atau ketidakpedulian yang muncul dalam masing-masing individunya ini perlu di hidupkan oleh peran guru, yaitu mengarahkan mereka secara mandiri menemukan siapa dirinya dan harus bagaiamana. Jadi, tidak ada lagi nanti anak-anak yang membolos sekolah karena menghabiskan waktu untuk bermain game online di warnet dekat sekolah atau membolos sekolah untuk berkumpul dengan  teman-teman motor modifikasinya dan juga membolos untuk mencoba kebiasaan-kebiasaan buruk yang didasari atas rasa penasaran yang di sekolah atau di rumah ia tidak dapatkan soal dampak buruk dan negatifnya. Diberikan ruang seluas-luasnya untuk mereka bisa mengekspresikan bahwa itulah diri mereka yang sesungguhnya dan jangan lupa ditutup dengan mengapresiasinya. Ketika di sekolah mereka bisa menemukan kepuasan dan merasa inilah dunianya dan saatnya. Berbagai sarana yang disediakan oleh pihak orangtua dan pihak sekolah mampu menjawab kebosanan dan keingintahuan yang diluar dari rutinitas belajarnya dalam kelas. Orangtua yang berkolaborasi dengan pihak sekolah atas berbagi peran yang sinkron ini perlu dijaga dalam wujud sebuah komunitas. Komunitas yang merupakan wadah bersama-sama memecahkan permasalahan anak-anak di usianya dengan mengedepankan upaya-upaya yang menyesuaikan dengan zaman.

Komunitas orangtua hari ini memang bisa dikatakan sedikit atau bisa juga dikatakan mati. Hal ini terlihat di daerah perumahan warga sudah jarang ditemui kalangan orangtua berkumpul untuk membicarakan sesuatu kalau pun ada itu biasa membicarakan hal yang bersifat gosip khas orangtua di malam hari. Pos kamling atau paguyuban yang dulu sempat hidup kini meredup dan berangsur hilang. Wadah tempat dimana saling berbagi cerita dan tak jarang dari perkumpulan itu membuahkan solusi-solusi atau ide membuat sebuah hajat bersama-sama. Adanya gap antar orangtua dan anak-anak yang selalu diartikan dunia mereka berbeda. Jika dipikir secara pragmatis memang benar, namun ada kebersamaan yang harus dimaknai bersama bahwa kehidupan sosial saling melengkapi, meng-ada-kan yang satu dan lainnya sehingga semua memiliki peran dan tanggungjawab.

Bisa ditanyakan, seberapa sering komunitas orangtua saling berbagi cerita pengalamannya semasa muda kepada si anak-anak tadi, membicarakan soal kegagalan dan keberhasilan dan juga tidak kalah penting tentang keuntungan dan kerugian sehingga yang muda dapat belajar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Kemudian juga seberapa sering komunitas anak-anak saling berbagi keseruannya di masa-masa remajanya kepada komunitas orangtua sehingga para orangtua dapat memahami dimensi baru yang anak-anak temukan dan akhirnya dua generasi ini bisa berkolaborasi soal apa saja. Dalam penguatannya mereka sudah saling memahami antar kedua komunitas ini, ini akan berdampak pada saling menunggu antar dua komunitas karena merindukan pertemuan dan sharing tentang hal-hal apa saja dari dua generasi yang mempunyai sudut pandang yang berbeda, sungguh menjadi pemandangan yang menarik. Tetapi, upaya ini harus diimbangi dengan batasan-batasan yang tetap menjaga komunikasi yang santun dan hormat sebagaimana harusnya anak kepada orangtua, bukan justru sebaliknya menjadikannya pada tataran kedudukan yang sama.

Membangun komunitas orangtua memang bukan hal yang baru, ini hanya mengembalikan semangat berkumpul yang sempat hilang entah karena zaman atau memang dari masing-masing individu orangtua yang mulai semakin sibuk dengan aktivitas-aktivitas barunya di era digital hari ini. Kehadiran komunitas orangtua yang eksis di lingkungan sekolah dan lingkungan tempat tinggal akan mampu menangkal segala bentuk perilaku menyimpang yang memungkinkan dilakukan oleh anak-anak karena fungsi pengawasan berjalan oleh komunitas orangtua. Betapa pentingnya eksistensi daripada komunitas orangtua di lingkungan sekolah dan lingkungan tempat tinggal tidak hanya menghasilkan kesadaran dan pengawasan tetapi semangat gotong-royong yang merupakan ciri khas masyarakat Indonesia menjadi hidup kembali.

Masyarakat saling bahu-membahu mewujudkan lingkungan yang terbaik dari berbagai hal,baik di lingkungan sekolah maupun lingkungan tempat tinggal. Indonesia sedang gencar mewujudkan generasi emas untuk tahun 2045 dan membangun komunitas orangtua adalah salah satu pilar dari sekian pilar yang ada untuk cita-cita mulia itu. Menjadikannya yang tua menjadi muda dan menjadikannya yang muda menjadi dewasa.


Muhammad Kasyfan - Pena Arial, sang Jakarta Muda

Wanita-wanita Indonesia yang Menginspirasi



RADARKAMPUS.COM, Semarang – Wanita-wanita Indonesia yang Menginspirasi, Sepak terjang perjalanan perempuan di Indonesia telah mengalami berbagai lika liku. Perjuangan mereka tak kenal lelah hingga berbuah hasil yang bisa dinikmati khayalak hingga saat ini. Banyak perjuangan yang yang telah menghasilkan, diantanya seperti  pedidikan pemberantasan buta huruf, pemberdayaan ekonomi, perlindungan ibu dan anak, bahkan dulu ketika Indonesia masih terjajah dalam menumpas para penjajah hingga mencapai kemerdekaan tak terlepas dari peran perempuan, perempuan ikut andil berjuang di dalamnya.

Para perempuan yang telah melakukan perjuangan dinobatkan sebagai pejuang bahkan adapula yang dianugrahi status sebagai pahlawan nasional. Berbicara tentang perjuangan perempuan, dibalik itu ada tokoh tokoh yang menginspirasi, merekalah yang memberi contoh bagi para perempuan generasi berikutnya. Dari sekian banyak tokoh perempuan yang dinobatkan sebagai pahlawan namun mengapa hanya nama Kartini yang paling populer dan harum namanya di kalangan publik? Kartini yang paling disanjung sanjung bahkan dibuatkan lagu nasional untuk mengenang jasanya. Kenapa harus kartini ? apa lantaran karena beliau disukai orang orang penjajah sedangkan pahlawan wanita lain justru dibenci penjajah seperti Christina Martha Tiahahu, Cut nyak dhien. Mereka berhadapan langsung dalam medan perang dan berkontribusi dalam mengusir penjajahan sedangkan kartini bergelimang pada kehidupan yang mewah karena ia seorang keturunan ningrat jawa dan perjuangannya hanya menulis surat surat yang dikirimkan ke rekannya di Belanda. Prof. Dr. Harsja W. Bachtiar, di artikel “Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita” dalam buku Satu Abad Kartini (1879-1979), mengatakan bahwa kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut. Kalau menurut anda pahlawan wanita yang memperjuangkan peningkatan derajat kaum wanita hanya Kartini, maka anda salah.

Di Indonesia Kekuatan Perempuan sebenarnya sudah terjadi berabad tahun yang lalu, mulai dari zaman kerajaan Hindhu, kerajaan islam, hingga zaman penjajahan Belanda. Wanita wanita Indonesia yang menginspirasi diantaranya :

Ratu Ratu Zaman Kerajaan Hindhu

1.Ratu Sima Kerajaan Kalingga
Histiriografi Indonesia mencatat sejak abad 7 Kerajaan kerajaan Hindhu yang berdiri di Indonesia pernah mengalami kejayaan saat dipimpin seorang perempuan. Ratu Sima (674) ratu dari kerajaan Kalingga yang terletak dipantai utara Jawa Tengah. Sosok ratu yang dikenal dengan tegas dan bijaksana. Beliau membuat peraturan soal pencurian. Hukum potong tangan diterapkan bagi siapa saja yang mencuri dan itupun berlaku untuk seluruh rakyat termasuk keluarga kerajaan. Sebuah bentuk persamaan hak di mata hukum. Tokoh Ratu Sima dapat memberi
pengajaran bahwa wanita bisa memimpin dengan tegas dan bijaksana karena tidak pandang bulu serta pilih kasih

2. Ratu Luhur Sri Gunapriyadharmapatmi Kerajaan Bali pada abad 10, pada abad 11 Raja Airlangga mengangkat Sanggaramawijaya sebagai Mahamenteri 1, dan pengangkatan kedudukan ini merupakan status tertinggi setelah kedudukan raja.Menjelang kejayaan kerajaan Hindhu berakhir , Kerajaan Mahapahit sempat di pimpin oleh seorang ratu yang bernama Ratu Suhita.

Tokoh Permpuan Zaman Kerajaan Islam

1. Ratu Kalinyamat Kerajaan Jepara
Pada abad ke 16 berdiri sebuah kerajaan bercorak islam yang terletak di pantai utara jawa tengah yaitu kerajaan Jepara, kerajaan ini mencapai kejayaan dibawah kepemimpinan seorang ratu, yaitu ratu kalinyamat. Ratu ini dikenal dengan kepandaiannya dalam mengatur perdagangan, beliaupun menjadikan kawasan Jepara sebagai pusat perniagaan di Jawa Tengah.

2. Laksamana Malhayati pejuang dari Kesultanan Aceh
Laksamana Malhayati dikenal sebagai kepala barisan pengawal Istana panglima rahasia dan panglima protokol pemerintahan dari sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV sebuh kesultanan yang terletak di Aceh. Beliau memimpin pasukan sekitar 2000 orang dalam berperang melawan kapan kapal dan benteng benteng Belanda pada peperangan itu beliau berhasil membunuh Cornelis de Houtman dalam pertempurannya satu lawan satu di gelagak kapal. Pasukan perangnya itu terdiri dari janda janda pahlawan yang telah gugur.Berkat keberaniannya ia dianggap sebagai perempuan pertama di dunia dalam pemimpin perang.

Tokoh tokoh perintis pergerakan perempuan pada masa penjajahan di Indonesia

1. Martha Christina Tiahahu
Martha adalah putri dari kapitan paulus yang membantu kapitan Pattimura. Beliau berjuang sejak umur belia yang langsung terjun ke medan pertempuran dalam melawan penjajahan Belanda dalam perang Pattimura, ia bukan hanya mengangkat senjata namun juga yang memotivasi para perempuan agar ikut berjuang dalam menumpas penjajahan. Untuk melemahkannya, belanda menghasut rakyat dengan menyebar gosip bahwa Martha itu menjadi gila dan akhirnya ditangkap, martha sakit namun menolak untuk diberi pengobatan oleh pihak Belanda. Kisah perjuangan Martha yang tak kenal kompromi ini  memberi hikmah kepada generasi perempuan berikutnya untuk tidak pantang menyerah kepada musuh dalam kondisi apapun.

2. Raden Ayu Ageng Serang
R.A Ageng Serang ini dikenal dengan sebuatan Nyi Ageng Serang, berasal dari Purwodadi awalnya mengikuti perjuangan ayahnya di bawah kepemimpinan pangeran Mangkubumi, dalam pertempuran ayahnya gugur lalu beliau melanjutkan perjuangannya hingga ia mencapai usia senja, kala ia terjadi perang Diponegoro dan pada saat itu usia Nyi Ageng sudah mencapai 73 tahun dan ia dinobatkan sebagai penasehat para pejuang, bersama R.M papak beliau memimpin perang dan beliau mempelopori penggunaan daun talas sebagai siasat penyamaran.

3. Cut Nyak Dien
Cut Nyak Dhien merupakan pejuang dari aceh, jiwa pejuangnya duwarisi oleh ayahya. Cut Nyak Dhien menikah 2 kali dengan suami yang pertamanya Teuku Ibrahim Lamnga gugur dalam medan pertempuran melawan Belanda, setelah kematian suaminya Cut Nyak Dhien bersumpah akan membalaskan dendamnya kepada penjajah Belanda dan hanya akan menikah dengan pria yang bersedia membantu usahanya dalam melawan Belanda, akhirnya menikah lagi dengan Teuku Umar seorang yang terkenal mendatangkan kerugian bagi pihak Belanda dan banyak taktiknya,dan akhirnya mereka berjuang bersama melawan penjajahan Belanda. Pada usianya yang ke 50 tahun beliau kembali ditinggalkan suaminya yang gugur dalam pertempuran, hal itu tak membuatnya tuduk bahkan semakin membabi buta melancarkan serangan terhadap Belanda hingga ajal menjemputnya.

4. Cut Meutia
Satu lagi pejuang perempuan berasal dari Aceh, Cut Meutia berjuang bersama suaminya Teuku Muhammad. Suami istri itu membentuk pasukan gelirya, menghadang patroli belanda yang lewat, membongkar rel rel kereta api dan sabotase sabotase lain yang merugikan pihak Belanda. Dalam Pertempuran suaminya gugur namun Cut Meutia tetap meneruskan perjuangannya, dalam keadaan hamil beliau tetap melancarkan aksi perlawanannya dengan gelirya ia masuk ke pedalaman hutan rimba

5. Maria Walanda Maramis
Maria lahir di kabupaten Minahasa Sulawesi Utara, Maria menyadari kaum perempuan perlu dibekali ilmu untuk mennjalankan peran mereka dalam rumah tangga,maka maria bersama rekanya mendirikan perkumpulan Percintaan ibu kepada Anak Turunannya (PIKAT) tujuannya perkumpulan ini adalah untuk mendidik para kaum perempuan dalam pekerjaan rumah tangga seperti memasak, menjahit, merawat bayi dan pekerjaan rumah tangga lainnya. Beliaupun membuka Sekolah Rumah Tangga yang diberi nama Huishoud Schol PIKAT di Manado.

6. Dewi Sartika
Dewi sartika lahir di Bandung sejak kecil beliau sudah memiliki bakat sebagai pendidik. Tahun 1902 Dewi Sartika merintis pendidikan untuk perempuan pribumi, Dewi Sartika mengajari tentang merenda, memasak, jahit menjahit, membaca, menulis,dsb. Pada tahun 1904 Dewi Sartika membuka Sakola Istri namun kemudian namanya berganti menjadi Sakola Kaoetamaan Istri (Sekolah Keutamaan Perempuan) dengan jangkauan yang lebih luas. Dewi Sartikapun dinobatkan sebagai perintis pendidikna bagi kaum perempuan dari Jawa Barat.

7. Nyai Ahmad Dahlan
Nama Kecil Nyai Ahmad Dahlan adalah sitti Walidah yang dilahirkan pata tahun 1872 di kampung santri kauman , Yogyakarta.Bersama suaminya ia berjuang dalam memodernkan ajaran islam yang terjadi ditengah masyarakat, yang dulunya masih memegang ajaran yang kolot dan otordoks. Sebagai seorang wanita, dia tidak hanya menjadi ibu rumah tangga biasa yang hanya di rumah saja. Keikutsertaan dalam berorganisasi dirintisnya dalam kelompok pengajian wanita dengan nama Sopo Tresno pada 1914. Beliau juga berdakwah bahwa perempuan seharusnya dapat berjuang bersama dan duduk dalam posisi berdampingan, baik dalam institusi formal maupun dalam pendidikan. Dia tidak hanya berdakwah, tetapi juga mengajari kaum perempuan dengan membuka asrama dan sekolah-sekolah putri serta kursus pemberantasan buta huruf bagi perempuan.

Tentang Penulis :

Dita Desiana Saputri gadis Purbalingga yang sedang mengais ilmu di Semarang, selebihnya pengagum wanita - wanita tangguh yang melegenda

Ramadhan: Momentum Hijrah Meninggalkan Kesunyian Kampus



RADARKAMPUS.COM, Semarang - Ramadhan : Momentum Hijrah Meninggalkan Kesunyian Kampus, Tidak perlu diperdebatkan lagi mengenai kemuliaan bulan Ramadhan. Dalam berbagai ayat Al Qur’an dan Hadits Nabi, sudah banyak dijelaskan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan terbaik diantara bulan-bulan yang lain. Bulan dimana segala amal perbuatan dilipatgandakan oleh Allah swt. Bulan dimana, bahkan tidurnya orang puasa pun bernilai ibadah (suatu hal yang sering disalahartikan untuk bermalas-malasan). Bulan yang jika orang muslim berpuasa akan menemui 2 kenikmatan, yaitu ketika berbuka dan ketika menemui Allah swt kelak. Dan ada begitu banyak kemuliaan lain dari bulan Ramadhan.

Bulan Ramadhan mengajarkan kita, agar kita terus bekerja dan beraktifitas meskipun tubuh menderita lapar dan dahaga. Dalam suatu hadits, bahkan Rasulullah melarang orang untuk bermalas-malasan. Puasa tidak bisa dijadikan legitimasi bagi kita untuk bermalas-malasan. Artinya, ada sebuah makna perjuangan disana. Allah swt ingin menguji kita, apakah kita akan tetap fight dan survive meskipun dalam kondisi yang tidak ideal.

Jika kita cermati lagi, kita bisa merefleksikan nilai perjuangan di bulan Ramadhan ini dengan kondisi pergerakan mahasiswa saat ini. Tahun 1998 selalu menjadi kisah yang tidak akan dilupakan oleh mahasiswa. Euforianya bahkan masih dirasakan oleh sebagian kalangan hingga saat ini. Tahun dimana mahasiswa berhasil menumbangkan sebuah rezim yang telah lama mengangkangi negeri ini. Meskipun ada pihak yang mengklaim bahwa mahasiswa saat itu hanya menjadi “pion”, tapi kita cukuplah berbangga dengan senior-senior kita, karena bukan tidak mungkin tanpa mereka yang turun ke jalan waktu itu, kita tidak akan menikmati zaman keterbukaan seperti saat ini.

Selepas itu hingga saat ini, lambat laun semangat pergerakan mahasiswa rasa-rasanya mengendur. Agresi teknologi yang begitu cepat seakan menjadi buah simalakama bagi mahasiswa. Di satu sisi, memang memudahkan kita untuk berkreasi dan berinovasi, tapi juga membuat kebanyakan mahasiswa hanya bisa haha-hihi lewat dunia maya, saling perang capslock, perang #hashtag, share ini itu tapi ketika bicara di kehidupan nyata nol besar. Isu-isu strategis dan berdampak bagi masyarakat kita bukan menjadi kue yang diinginkan oleh banyak mahasiswa, dan seakan hanya menjadi konsumsi segelintir mahasiswa saja.

Kampus tidak lepas dari hal ini. Bahkan, bisa jadi ada sebuah grand design yang masif dan terstruktur yang bertujuan menjauhkan mahasiswa dari kehidupan nyata yang sebenarnya. Bisa jadi ada pihak-pihak yang tak ingin mahasiswa terlampau kritis sehingga sebuah “skenario” dijalankan agar mahasiswa menjadi bisu dan kampus menjadi sunyi. Beberapa permasalahan berikut adalah indikator adanya “skenario” tersebut.

1. Belenggu budaya populis-kekinian dan hedonisme
Bagi kawan-kawan yang sering menyelenggarakan diskusi pasti sudah terbiasa dengan minimnya peserta diskusi yang hadir. Pengalaman pribadi penulis selama di organisasi kampus menunjukan hal tersebut. Seringkali kegiatan diskusi hanya dihadiri oleh segelintir mahasiswa yang biasanya itu-itu saja. Padahal, sebuah diskusi adalah ruang yang amat dibutuhkan oleh mahasiswa agar membuka pemikirannya. 1 judul buku saja misalnya, jika didiskusikan oleh 5 orang, maka akan ada 5 perspektif yang hadir.

Sayangnya, banyak kegiatan lain yang lebih dianggap keren dan memberikan rasa nyaman dari diskusi. Jalan-jalan ke mall sama pacar, misalnya. Atau pergi ke tempat hits bareng kawan-kawan kemudian upload fotonya di instagram. Sebenarnya tidak masalah melakukan hal tersebut, asal sekali-kali juga bisa ikut diskusi agar kita berlatih bicara dan memahami suatu permasalahan.

2. Ancaman pemanggilan hingga DO buat mereka yang berkoar di kampus
Kisah mahasiswa yang dikeluarkan karena lantang bersuara di kampus bukan isapan jempol belakar. Masih jelas dalam ingatan kita beberapa waktu lalu tentang kisah Rony, aktivis mahasiswa UNJ yang dikeluarkan meskipun kemudian dibatalkan oleh Rektor. Jika melihat di kampus Unnes sendiri, hal yang biasa terjadi adalah pemanggilan oleh birokrat kampus, bahkan sampai ada yang rumahnya dikunjungi.

Bagi sebagian orang, hal ini tentu bukan sesuatu yang diharapkan. Banyak yang menjadikan ini alasan untuk takut berbicara di kampus. Tidak ikut demo karena takut dipanggil dosen, takut beasiswa dicabut, takut tidak bisa ikut UAS, dan sederet ketakutan lain.  

3. Biaya kuliah (UKT) yang tinggi
Kita ketahui bersama bahwa sejak mahasiswa angkatan 2013 telah dikenakan sistem UKT. Jika diterapkan dengan baik, proporsional dan transparan sejatinya sistem UKT yang menawarkan subsidi silang merupakan jembatan mahasiswa yang kurang mampu untuk tetap bisa menikmati kuliah sesuai dengan kemampuan pembiayannya. Tapi nyatanya tidak selalu demikian. Sistem seleksi yang belum sempurna memberikan celah sehingga banyak kasus mahasiswa yang memperoleh UKT tidak sesuai. Belum lagi, akan diberlakukan lagi SPI bagi mahasiswa jalur Seleksi Mandiri, meskipun pada akhirnya dibatalkan.

Tingginya biaya UKT akan cenderung membuat mahasiswa untuk secepat mungkin menyelesaikan kuliah. Dampaknya adalah, mahasiswa cenderung untuk menghindari kegiatan-kegiatan yang katanya bisa mengganggu kuliahnya, semisal aktif di organisasi, atau ikut demonstrasi. Bisa jadi, suatu ketika nanti, akan ada masa dimana posisi Presiden Mahasiswa (yang biasanya dijabat di semester 8-9) tidak menjadi posisi yang seksi lagi karena mahasiswa enggan mengorbankan sedikit lagi masa kuliahnya.

Selain tiga poin di atas, tentu masih ada faktor yang lain. Beban kuliah yang semakin berat dengan tugas akademik yang begitu memberondong tiap minggunya juga ikut berperan. Tapi menurut saya, tiga poin di atas yang paling berpengaruh.

Mahasiswa sudah seharusnya berani untuk melihat masalah, menganalisisnya dan melontarkan alternatif solusi. Bukan sekadar melihat kemudian melupakannya. Jika selama ini masih banyak mahasiswa (atau bahkan kita sendiri) enggan mengikuti kajian ilmiah atau diskusi pergerakan, marilah kita sesekali mencoba untuk duduk bersama dengan kawan yang lain, mungkin saja diskusi-diskusi yang awalnya kita tidak suka bisa menjadi jatuh cinta. Jika selama ini kita takut dan enggan untuk aktif berorganisasi atau sekadar demonstrasi karena takut dipanggil dosen atau bahkan Rektor, marilah kita ubah paradigma berpikir kita. Yakinlah jika kita menyuarakan hal yang benar, dengan dasar yang valid dan cara yang santun, tentu tidak ada alasan untuk melarang suara-suara kita. Kemudian, jangan pula UKT yang tinggi menghambat mahasiswa dalam berorganisasi. Kembalikan pada diri kita sendiri tentang bagaimana kita mengatur waktu selama 24 jam. Jika manajemen waktu kita baik tentu berorganisasi tidak bisa dijadikan kambing hitam jika kita mungkin harus menunda kelulusan 1-2 semester, misalnya.

Melalui momentum bulan Ramadhan ini, marilah kita berhijrah dari diri yang lalu menjadi diri yang lebih baik. Mari kita berhijrah dari seorang mahasiswa yang diam dan enggan bersuara, menuju mahasiswa yang lantang dan berani bicara. Mari kita berhijrah dari kampus yang menikmati kesunyian, menuju kampus yang ramah dan ramai dengan suara-suara perubahan.

* Arif Muamar Wahid Mahasiswa Universitas Negeri Semarang angkatan 2011. Sedang berusaha untuk bisa segera membangun kampung halaman.

Karakter Mahasiswa Bisa di Lihat dari Jurusannya

RADARKAMPUS.COM, SemarangKarakter Mahasiswa Bisa di Lihat dari Jurusannya, Mahasiswa tentu saja memiliki karakter dan sifat yang berbeda-beda. Namun perbedaan tersebut merupakan keindahan yang mewarnai setiap kegiatan di kampus. Nah, berikut ini beberapa karakter mahasiswa yang dihimpun berdasarkan jurusannya.



1. Mahasiswa Sejarah
Jenis mahasiswa ini adalah mahasiswa yang mengingat kilas balik masa lalu, karena dalam perkuliahan banyak mempelajari peristiwa dimasa lampau. Jadi hati-hati jika bikin masalah dengan mahasiswa sejarah, bisa jadi mengungkit kejadian masa lalunya. Meski mempelajari masa lalu bukan berarti mahasiswa sejarah selalu gagal bangkit, justu dari mahasiswa sejarahlah kita belajar arti kesemangatan pemuda, karena didalam jiwanya tersusupi semangat nasionalisme yang mereka dapatkan ketika mempelajari para pahwalan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.Mahasiswa sejarah biasanya banyak referensi tempat wisata sejarah, kalo berwisata bareng mahasiswa sejarah bisa ngirit tanpa menyewa pemandu wisata karena mereka bisa dijadikan tour guide.

2. Mahasiswa Sosiologi dan Antropologi
Teori adalah makanan sehari-hari bagi mahasiswa sosant ini, jadi kalo berdebat dengan mahasiswa jurusan ini akan disuguhkan sekodi teori-teori. Biasanya mahasiswa sosant ini mudah bergaul dalam lingkup sosial karena mereka mempelajari tentang interaksi dalam masyarakat. Mahasiswa sosant ini paling paham hal-hal yang menyangkut tentang masyarakat dari mulai struktur hingga konflik-konflik sosial. Kalo ingin mengenal berbagai sosial dan budaya kita juga bisa belajar dari mahasiswa sosant dan mereka punya banyak referensi wisata sosial dan budaya terutama di Indonesia.

3. Mahasiswa PKn
Hal yang mengenai kepancasilaan dan pasal-pasal dari undang-undang merupakan makanan pokok bagi mahasiswa PKN, kitapun bisa belajar tentang hak dan kewajiaban sebagai warga negara melalui mahasiswa PKN ini. Kalo kalian ingin belajar tutorial menjadi warga negara yang baik bisa belajar dari mahasiswa PKN ini, jadi bisa dihipotesiskan kalo mahasiswa PKN ini adalah mahasiswa yang baik diantara mahasiswa lain karena mengerti tentang hak dan kewajiban yang harus dikerjakan maupun dilarang dau mengerti tata cara menjadi manusia yang patuh terhadap norma norma dan peraturan perundang-undangan dalam negeri ini.

4. Mahasiswa Geografi
Mahasiswa yang paling update mengenai fenomena-fenomena yang terjadi di belahan bumi. Dari mahasiswa geografi kita bisa belajar mengenai gejala-gejala permasalahan pada bumi, karena yang bisa mengalami permasalalah bukan manusia aja tapi bumipun juga jadi kita harus bisa memahami permasalahan yang menjangkit pada bumi agar bisa menaggulangi fenomena yang akan terjadi pada bumi yang berdampak mengganggu kelangsungan hidup para mahluk hidup terutama pada manusia. Mahasiswa geografi ini adalah manusia yang savety dan dekat dengan alam, dikatakan savety karena mereka mempelajari tanda-tanda akan terjadinya bencana seperti gempa bumi,saat tanda-tanda itu mulai muncul mahasiswa geografi mulai mencari solusi untuk menyelamatkan diri. Dikatakan dekat dengan alam karena dalam mempelajari materi mereka lebih banyak memposisikan di alam terbuka.

5. Mahasiswa Ilmu Politik
Bagi sebagian orang beranggapan kalo politik itu kotor, namun penyataan ini tidak berlaku bagi para mahasiswa ilmu politik, mereka menyakini politik sebagai starategi untuk mencapai tujuan tertentu. Dari mahasiswa ipol ini kita bisa belajar bagaimana strategi dan tata cara dalam berpolitik dengan santun,mereka cakap dalam menjalankan peran berpolitik baik diranah akademis maupun ranah yang lebih luas lagi. 

6. Mahasiswa Ekonomi
Tanpa dipungkiri uang merupakan media yang penting dalam menunjang kehidupan manusia dan Berbicara masalah uang? Serahkan saja pada ahlinya, mahasiswa bidang ekonomi berkompeten dalam hal keuangan. Dalam perkuliahannya mereka diajari cara mengelola uang, cara memainkan uang agar bisa menghasilkan uang lagi, bermain saham. Cara mengatur keuangan baik dimulai dari diri hingga ke ranah yang jangkauannya lebih luas lagi. Mahasiswa ekonomi cakap dalam mengatur keuangan. Ingin tampil modis atau glamor dengan dana yang minim? belajarah dari mahasiswa ekonomi ini, mereka akan membagikan tips-tipsnya dalam mengelola keuangan.

7. Mahasiswa Hukum
Dalam kehidupan manusia tidak terlepas dari yang namanya hukum, hukum salah satunya diciptakan untuk memvonis mereka yang melakukan tindak kriminal agar adanya efek jera untuk tidak melakukannya lagi. Dari mahasiswa hukum kita bisa belajar tentang hukum-hukum yang berlaku didalam masyarakat dan belajar tentang keadilan. Jika kalian menjumpai seseorang yang berbuat kriminal dan melanggar norma, bisa dikonsultasikan dengan mahasiswa hukum dengan undang-undang yang dilanggar dan hukuman yang pantas untuk memvonisnya.

8. Mahasiswa Bahasa dan Sastra
Kehidupan ada 2 macam yaitu fiksi dan tidak fiksi, begitupun terjadi dalam dunia mahasiswa bahasa dan sastra. Merekalah yang mahir dalam mebuat cerita nyata dan khayal. Jika kita memiliki pasangan dari mahasiswa bahasa dan sastra bisa bisa tiap pagi disuguhi keindahan puisi dan sebelum tidur akan diceritakan dongeng karyanya. Hidup penuh keromantisan dengan syair-syair yang mereka ciptakan setiap hari, keindahan bahasa dengan balutan majas-majas yang beraneka ragam. Dari Mahasiswa bahasa dan satra kita bisa belajar bagaimana menulis berita secara aktual, faktual, dan akurat karena menulis berita juga memerlukan data-data, menulis fiksipun perlu trik-triknya.

9. Mahasiswa Seni Musik
Mendengarkan musik bukan hanya untuk hiburan semata, tanpa kita sadari musik yang kita dengarkan akan mempengaruhi suasana hati seseorang. Kalau mendenggarkan musik melow hati kitapun akan ikut mendayu-ndayu  jika kita mendengarkan musik metal atau rock maka hati kita akan menggejolak. Perlu kita ketahui bahwa genre musik begitu banyak dan genre itu dibagi lagi kedalam subgenre, dimulai musik klasik dari musik modern mahasiswa seni musiklah ahlinya. Mereka tau tentang kesejarahan musik itu terbentuk, jenis-jenis musik dan cara memainkan berbagai alat musik. Jika kita memiliki pasangan atau berteman dengan mahasiswa seni musik maka jangan bosan-bosan untuk dinyanyikan sebuah lagu atau melodi alat musik, hidup serasa terbalut keindahan nada-nada mayor dan minor, rata-rata mahasiswa seni musik ini adalah mahasiswa yang mendamba kebebasan, karena dalam bermusik kita perlu merdeka agar inspirasi muncul dan pemikiran menjadi jernih dalam menciptaan nada-nada baru.

10. Mahasiswa Seni Rupa
Keindahan bukan hanya berbentuk suara tapi juga sesuatu yang terlihat seperti seni rupa. Mahasiswa seni rupa mahir dalam menggambarkan sesuatu, mulai dari pemandangan, peristiwa, alam, manusia, maupun keindahan lainya yang tersaji dalam dunia. Dari mahasiswa seni rupa kita bisa belajar mengenai jenis-jenis gambar yang nampak secara rupa dan mengandung banyak seni dan makna didalamnya. Dalam menggambar atau menciptakan karya, mahasiswa ini tidak semata mata asal menggambar saja naumun didalamnya penuh konsep, makna, arti dan ada pesan tersurat dibaliknya. Terkadang mahasiswa seni rupa ini penampilannya nyentrik dan nyantai karena orang-orang sepertii mereka begitu mendamba kebebasan dalam hidup maupun berkarya. Jadi jika di kampus menemui mahasiswa yang penampilannya nyetrik bisa dikaterogikan kalp dia anak seni, umumnya si begitu.

11. Mahasiswa Tekink
Mahasiswa teknik ini bidangnya cukup banyak diantaranya teknik mesin,teknik sipil, teknik kimia, teknik elektro, tata busana, tata kecantikan. Mereka lebih banyak belajar dalam prakteknya daripada teori jadi kemampuan mereka semakin terasah . Bisa dikatakan mahasiswa ini mampu mengembangkan bakatnya. Kalo kita memiliki pasangan dari mahasiswa teknik bisa mengirit pengeluaran loh, karena mereka cukup cakap untuk mempermak sesuatu yang ada disekitar yang sekiranya sudah terlihat rusak, misal ada barang elektronik yang rusak serahkan saja sama mahasiswa teknik elektro karena mereka ahli daam memperbaiki benda-benda elektro. Rata-rata mahasiswa teknik itu kreatif, karena biasanya mereka menciptakan suatu karya baru sesuai bidang yang digawanginya.

12. Mahasiswa Biologi
Biologi adalah ilmu yang mempelajari segala fenomena pada mahluk hidup. Mahasiswa biologi ini sering disibukkan dengan penelitian-penelitian mengenai mahluk hidup, biasanya media percobaannya tumbuhan dan hewan yang dilakukan dengan pembedahan. Kalo ada yang merasa penasaran dengan hal yang berkaitan dengan taksonomi,anatomi,morfologi mahluk hidup mahasiswa biologilah ahlinya. Mahasiswa biologi bisa dibilang cukup teliti karena penelitiannya mulai dari lingkup yang sangat sederhana dan bentuknya tidak kasat mata seperti sel hingga sampai ranah yang lebih besar lagi  sistem organ mahluk hidup. Dari hal-hal terkecil saja diteliti apalagi kamu? hehehe

13. Mahasiswa Fisika
Fisika dikategorikan ke dalam ilmu alam yang mempelajari gejala-gejala di alam, mengapa sesuatu fenomena terjadi, ilmu fisikalah yang mencari jawaban sebab dan akibatnya. Pada waktu dulu ketika manusia berfikir primitif dan masih mengagungkan mitos, hal halyang terjadi pada fenomena alam sering dianggap ke dalam hal yang berhubungannya dengan mistis dengan bukti yang tidak tepat akurat, maka untuk menghindari pola pikir primitif terhadap gejala alam itu fisika lahir membawa jawaban yang lebih tepat dan bisa dinalar dengan logika. Hati-hati kalo mengumbar janji dengan mahasiswa fisika, karena gejala alam saja ia cari bukti-buktinya, apalagi janji-janji kamu.wkwkwk

14. Mahasiswa Kimia
Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak terlepas dari barang yang mengandung kimia, malah sebagian besar perabot yang digunakan manusia berbahan kimia. Mahasiswa kimia mempelajari tentang susunan,struktur, sifat, perubahan dan energi yang menyertai perubahannya. Jadi isal mempelajari tentang hujan maka akan dipelajari partikel susnannya,zat kimia yang terkandung dalam air hujan,dsb. Mahasiswa kimia biasanya mampu mengubah bahan alam diolah menjadi barang yang berguna dalam kehidupan misalnya membuat sabun yang terdiri dari bahan alam yang dioplos dengan bahan kimia. Mahasiswa kimia itu ibarat detektiv karena sering memecahkan masalah yang terjadi pada kehidupan sehari-hari dengan teknik ilmu kimia.

Tentang Penulis :
Dita Desiana Saputri berasal dari kota Purbalingga, suka menulis sejak SD selebihnya penikmat kopi sambil menulis puisi dalam balutan sepi.

Back To Top